Sabtu, 21 Januari 2012

Kenapa Dya masih tetap setia menunggu Dio ?

Dya masih saja setia menunggu satu kalimat dari Dio. Berhari2 ngga pernah ada waktu Dya untuk ngga menunggu kalimat itu. Juga setiap hari Dya pasti membicarakan tentang Dio (mungkin matanya si Dio setiap hari kedut-kedutan tuch gara2 diomongin mlulu sama Dya). Dan mungkin juga temen2 Dya sudah bosen untuk dengerin semua cerita Dya tentang Dio dan juga cerita tentang besarnya harapan Dya untuk Dio mengatakan satu kalimat itu.

Penantian itu sendiri dimulai sejak Dya merasa kalau Dio memiliki perasaan yang sama (cuma perasaan Dya doank kali yach?). Memang belum segala cara dilakukan Dya agar Dio mau mengatakannya. Tapi kalau mau dijabarkan, banyak hal yang cukup ANEH dan TOLOL yang sudah dilakukan Dya agar Dio mau mengatakannya. Sampai2 Dya merasa kalau dirinya punya bakat untuk jadi seorang PSYCHOPATH ;p.

Baru kali ini Dya bisa jadi sesabar ini menunggu, padahal cuma nunggu satu kalimat dari Dio. Dya terlanjur merasa kalo Dio adalah satu-satunya yang Dya inginkan saat ini (ngga tau dech ntar ato besok mau apa). Ya ampyuuunnnn, seorang Dya akhirnya rela bersabar menunggu satu kalimat dari seorang Dio.

Ya...Dio, manusia berwujud laki-laki yang sangat jauh melenceng dari laki-laki idaman Dya selama ini. Sangat sangat sangat jauh, dari segala sisi. Dya selalu mengagumi laki-laki dengan postur tinggi dan tidak kurus, tapi Dio.....semua teman Dya bahkan mengatakan kalau Dio itu CUNGKRING. Dya selalu menyukai laki-laki yang bisa dan suka diajak berbicara mengenai banyak hal, tapi Dio..... Dya tahu kalo Dio memang tahu banyak hal tapi tidak untuk diajak bicara. Itu baru sedikit hal yang melenceng, masih banyak lagi kalo mau dijabarin.

Jadi kenapa Dya masih tetap setia menunggu Dio mengatakan satu kalimat itu?


( SERIA-18Oct2008)

Lalu, bagaimana dengan janji hati kita???

Masih dapat aku ingat saat kau datang padaku dan memintaku untuk merajut janji hati denganmu.
Sempat aku ragu untuk mengatakan 'YA', namun sosokmu begitu meyakinkan dan tampak begitu sempurna untukku.
Bayangan akan indahnya menjalani masa depan hidupku bersamamu yang akhirnya membuat aku mantap untuk merajutkan janji hati kita. 
Bertahun sudah aku menapaki cinta kita.
Demi tetap terajutnya janji hati, akupun selalu berusaha untuk bisa menjadi seperti wanita yang kauinginkan. Meredam segala egoku demi terciptanya kemesraanmu. Melakukan segala yang kau katakan agar tak ada perselisihan.
Hingga saat itu kau bilang kau harus pergi ke seberang sana demi keluargamu. Kau bilang hanya pergi sebentar, 3 minggu saja katamu. Kau juga berjanji akan kembali lagi kesini untuk aku. Aku terpaksa merelakan kau pergi, walau aku tahu aku pasti akan merana karena harus menahan rasa rindu selama itu. Aku amat sangat percaya dan yakin bahwa kau akan kembali untuk aku.
Hanya bayangan kemesraan kita saat kau kembali nanti yang menguatkan aku agar tidak cengeng dalam menjalani perasaan rindu aku padamu.
Meski hanya dengan mendengar suara yang berseberangan, kita lalui jarak dan waktu dengan gelora cinta yang sedang menahan rindu.
Waktu 3 minggu pun berlalu, kaupun sudah kembali meski belum kita saling bertemu. 
Tak sabar aku ingin segera meluapkan rasa rindu ini, ingin segera bertemu dengan kamu sang kekasih hati tercinta.
Namun kau bilang kau masih sibuk dengan urusanmu. Tak ada tanya, karena aku sangat percaya pada semua yang kau katakan.
Sampai akhirnya kau kirim pesan kepadaku bahwa kau sudah menikah. Bahwa ternyata kau pergi ke seberang sana adalah untuk menikah.
Kamu pasti bercanda, itu pikirku saat itu.
Bagaimana mungkin aku bisa percaya, karena kau masih begitu mesranya padaku saat kau di seberang sana, dan kau masih merencanakan dan menjanjikan banyak hal indah yang akan kita berdua jalani saat kau kembali dari seberang.
Tapi ternyata itu adalah benar-benar terjadi, itu adalah kenyataan yang mau tidak mau harus aku terima.
Bagaimana mungkin kau bisa melakukan ini padaku.
Lalu, bagaimana dengan janji hati kita???

*Written by SST*
-3 Nov 11-

Perkataanmu belakangan ini agak terlalu kasar, kanjeng ratu. Mungkin sudah saatnya melihat kembali apa yang pernah dipelajari Tentang berk...